Mengapa Harus Ada Pelakor dan Poligami

Diterbitkan 12 bulan lalu di Kategori Curhatan. 19647 Melihat

Semoga artikelnya bisa bermanfaat untuk kita semua

Mengapa Harus Ada Pelakor dan Poligami

Dua trending topic dunia maya bulan ini adalah seputar pelakor dan poligami, namun tanpa adab yang benar. Saya tidak akan membahas poligami yang sesuai tuntunan syari’at, sebab jika memang benar sebuah poligami dilakukan dengan menjunjung tinggi syari’at dan menjaga adab, insya Allah tidak akan menimbulkan duka mendalam bagi istri yang dimadu (Ah, yang bener? Yakin Bu?)

 

Kadang saya bertanya-tanya, kok bisa ya, ada suami-suami yang tega bener menyelingkuhi istrinya dan melakukan poligami tanpa disertai adab yang benar? Setelah pengorbanan istrinya yang berdarah-darah saat melahirkan anaknya, setelah kerelaan menemani tahun demi tahun dalam suka dan duka, setelah perjuangan yang dirintis bersama-sama… Kok bisa dan dengan mudahnya berpaling ke pelukan perempuan lain yang mungkin baru dikenalnya, atau paling tidak sama sekali belum pernah merasakan jatuh bangun bersama dalam kehidupan yang bernama rumah tangga?

 

Namun memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

 

Apalagi bagi pasangan suami istri yang rumah tangganya dijalani dengan datar-datar saja alias sekedar tinggal bersama dalam satu atap namun tidak pernah saling berbagi kehangatan. Mereka memang masih berstatus sebagai suami istri. Suami melakukan kewajibannya dengan baik, pun demikian sang istri. Namun mereka melakukan semuanya secara autopilot, tanpa penghayatan.

 

Rumah tangga hanya dimaknai sebagai rutinitas yang sudah seharusnya. Semacam take it for granted. Ketika suami menafkahi istri dan anak-anaknya, istri tidak mengapresiasi perjuangan suaminya. Ketika istri mengurus rumah tangga dan anak-anak, suami tidak menghargai jerih payah istrinya. Jangankan romantis-romantisan, sekedar menyapa atau berbincang saja nyaris tak pernah. Mereka terlalu larut dalam dunia masing-masing. Hal-hal seperti inilah yang menjauhkan hubungan keduanya, sehingga dengan mudah orang ketiga hadir di tengah-tengah mereka.

 

Pernah dengar Triangular Theory of Love atau teori segitiga cinta? Penggagas teori ini, Prof. Robert J. Steinberg, memaparkan bahwa cinta atau hubungan dengan pasangan — dalam hal ini pasangan suami istri — harus memiliki tiga komponen yakni intimacy (kemesraan/keakraban), passion (gairah) dan commitment (komitmen).

 

Intimacy membuat hubungan suami dan istri layaknya sepasang sahabat, yang nyaman berdekatan, beraktivitas bersama, saling mendukung, saling merindukan jika terpisah jarak dan tetap terkoneksi satu sama lain. Hal ini adalah unsur warm dalam pernikahan.

 

Passion sudah jelas ya, intinya perasaan ingin selalu berdekatan secara fisik dengan pasangan, alias kontak fisik dalam hubungan dua insan yang sudah dihalalkan. Passion ini merupakan komponen yang membuat hubungan pernikahan menjadi hot, panas membara.

 

Lalu commitment, hal inilah yang mengikat pasangan suami istri untuk mempertahankan pernikahan mereka, hingga maut memisahkan, bahkan hingga ke surgaNya. Komponen ini adalah unsur cold, yang merasionalkan hubungan keduanya.

 

Jika pasangan suami istri masing-masing berusaha mempertahankan ketiga komponen ini dalam rumah tangga mereka, maka mustahil ada orang ketiga yang hadir untuk menghancurkan bangunan pernikahan.

 

Terkadang seiring usia pernikahan yang semakin menua, pasangan suami istri seakan sudah tak punya waktu untuk saling menunjukkan bahwa mereka adalah dua insan yang saling mencintai. Lamanya usia pernikahan membuat masing-masing pihak merasa sudah mengenal luar-dalam pasangannya, sehingga tidak perlu menggali lagi apa sebenarnya yang dimaui pasangan.

 

Terkait intimacy

 

Sudah seharusnya masing-masing pihak menganggap pasangannya adalah sahabatnya. Sahabat itu nyaman saat bersama, maka ciptakan kenyamanan saat bersama pasangan. Perbanyaklah mengobrol dengan pasangan. Dengan sering mengobrol, kita jadi tahu jika ada perubahan sekecil apapun pada diri pasangan.

 

Perbanyaklah aktivitas bersama dengan pasangan. Meski kita dan pasangan adalah dua orang yang betul-betul bertolak belakang dalam selera dan kegemaran. Bukankah sahabat itu saling mendukung? Sekali waktu, temani pasangan beraktivitas sesuai hobinya. Perhatian kita terhadap hobi pasangan akan membuat pasangan merasa dihargai. Hal itu sekaligus membuat pasangan juga mengapresiasi hobi kita, yang notabene berbeda dengannya.

 

Sahabat itu saling terhubung meski berjauhan. Sehingga jika suatu saat harus terpisah jarak dengan pasangan, berusahalah untuk tetap terhubung satu sama lain. Jangan saling cuek atau bahkan merasa nyaman saat berjauhan dengan pasangan.

 

Terkait passion

 

Karena passion hanya dihalalkan dalam hubungan rumah tangga, jangan sampai kita dan pasangan kalah mesra dengan mereka-mereka yang masih berpacaran. Meski usia rumah tangga kita sudah tidak muda lagi, jangan malu mengekspresikan romantisme kita. Bisa lewat apa saja. Tanyakan dulu pada pasangan, ia ingin diperlakukan seperti apa. Ah, saya tidak ingin berpanjang lebar terkait passion, hal ini sangat personal dan pasti masing-masing kita lebih paham dengan pasangan masing-masing bukan?

 

Terkait commitment

 

Hal inilah yang, menurut saya, tak dipunyai oleh para suami yang tega berselingkuh dengan perempuan lain atau yang pada akhirnya tergoda melakukan poligami tanpa adab, yang berpotensi menghancurkan hati istri pertamanya.

 

Seharusnya, masing-masing suami istri banyak mengingat kelebihan-kelebihan pasangannya, hal-hal apa yang dimiliki pasangan dan membuat kita jatuh cinta. Jika memang dirasa saat ini pasangan sudah tidak menarik lagi dan orang lain jauh lebih menarik untuk dicintai, abaikan perasaan itu. Percayalah syaithan sangat bersemangat dan memiliki jutaan cara untuk memisahkan ikatan yang disebut mitsaqan ghalizha ini. Saran saya, tetap gali kelebihan pasangan, karena pasti selalu ada alasan untuk tetap mencintai pasangan selayaknya dulu kita bersedia menikahi atau dinikahi pasangan.

 

Selain itu, cara lain meningkatkan komitmen adalah dengan mengingat anak-anak. Merekalah yang paling terpukul jika ayah ibunya berpisah. Apalagi jika alasan perpisahan karena kehadiran orang ketiga.

 

Semoga dengan senantiasa menghadirkan segitiga cinta dalam hubungan pernikahan, pernikahan kita bisa terbebas dari gangguan orang ketiga yang menghancurkan mahligai sekaligus membuat iblis bergirang hati karenanya.

Tags: pelakor, poligami,